Larang Anak Bawa Keris dan Wayang ke Kuburan

Larang Anak Bawa Keris dan Wayang ke Kuburan
Ki Timbul Hadiprayitno Wafat

BANTUL – Masyarakat Jogjakarta kehilangan sosok dalang yang konsisten dengan gagrak Jogjakarta, Ki Timbul Hadiprayitno. Selasa (10/5) dini hari, bapak empat belas putra ini mengembuskan napas terakhir dalam usia 79 tahun di kediamannya di Panjang Jiwo, Patalan, Jetis, Bantul. Sejak pagi, terlihat sejumlah orang bersurjan menyalami tamu-tamu yang datang ke rumah duka. Karangan bunga ucapan bela sungkawa terlihat berderet di sekitar pintu masuk. ”Sebagai bentuk penghormatan terakhir, kami anak dan keluarga serta para sahabat, mengenakan baju Jawa. Karena dalam keseharian, Ki Timbul sangat dekat dengan budaya dan kesenian Jawa,” ujar Ki Gesang Sudrasana, anak keempat.
Ki Gesang menuturkan, ayahnya yang lahir di Desa Jenar, Bagelan, Purworejo, pada tahun 1932, meninggal setelah menderita sakit paru-paru. Jumat dua pekan lalu, Ki Timbul dibawa ke RS Panti Rapih Jogja. Sekitar empat hari dirawat di rumah sakit, dalang yang diberi gelar KMT Cermo Manggolo oleh Sultan HB IX itu meminta pulang.


Kondisi kesehatannya sempat berangsur membaik. Bahkan, Ki Timbul sempat menyaksikan pementasan kethoprak klasik yang digelar di rumahnya pekan lalu.
”Bapak memang minta ditanggapke (dipentaskan) kethoprak klasik ketika kakak saya menggelar hajatan minggu lalu. Namun, kemudian kondisi Bapak mulai menurun dan meninggal dunia pukul 01.15 Selasa (10/5) kemarin,” tuturnya.
Sebelum meninggal, Ki Timbul meninggalkan pesan khusus kepada 14 anaknya yang lahir dari dari tiga istri. Setiap anak menerima pesan berbeda. Namun, ada satu pesan yang disampaikan secara umum kepada ahli waris. Pesan itu yakni Ki Timbul tak ingin anak-anaknya membawa keris dan wayang ke kuburan ketika dirinya meninggal. Selain itu, dia juga tak ingin ada suara gending Jawa yang mengiringi pemakamannya.
”Alasannya, karena Bapak adalah orang Islam. Jadi, ingin disemayamkan dengan cara Islam juga. Bapak ingin dimakamkan di pemakaman umum dekat rumah, meski ada tawaran untuk dimakamkan di pemakaman seniman,” imbuhnya.
Prof Dr Kasidi, anak pertama Ki Timbul, mengaku ayahnya sangat mencintai dunia dalang. Hidupnya digantungkan pada profesinya sebagai dalang wayang kulit. Meski demikian, profesi itu mampu mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan hingga jenjang tinggi.
Menurut Kasidi, rata-rata semua anak Ki Timbul bisa mendalang. Dari empat belas anaknya, ada tujuh anak yang mahir bisa mendalang. “Tidak diajarkan khusus. Namun, karena lingkungan, kebanyakan anak-anak Bapak bisa mendalang. Ada juga cucunya yang menuruni bakat dalang,” imbuhnya.
Istri kedua Ki Timbul, Rukidah, mengaku ikhlas dengan kepergian suaminya. Perempuan yang melahirkan enam anak dari Ki Timbul itu menilai suaminya adalah sosok lelaki yang baik, sederhana, dan apa adanya. “Sebetulnya kami itu masih nak sanak (sepupu). Usia saya dan suami terpaut dua tahun. Lebih tua saya. Saya waktu itu adalah sinden dan Bapak adalah dalangnya,” ucapnya.
Ada satu kenangan yang masih diingat Rukidah. Saat waktu luang, Ki Timbul kerap mengajaknya untuk jalan-jalan dan nonton di bioskop. Biasanya, mereka menonton film silat hingga drama. “Kalau lagi libur dalang, sering diajak nonton bioskop. Zaman dulu lihatnya film Panji Tengkorak,” ungkapnya. (ila)

Categories: Berita | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: