Pesan Pak Padjar “Wanita Perlu Paham Visi Kosmisnya!”

Menurut Dr. Damardjati Supadjar, dosen filsafat UGM (kini Prof. Dr. dan Guru Besar), manusia itu inti penciptaan alam semesta; berarti ia mempunyai makna kosmologis. Ibu itu pasti perempuan, tapi tak semua perempuan bisa menjadi ibu yang baik dan berkarakter.

Perempuan berasal dari kata “empu” yang artinya sosok yang dimuliakan, yaitu rahim, tempat berlangsungnya karya besar Ilahi berupa pembentukan manusia. Karena itu, bagi perempuan, menjaga kesucian rahim itu mutlak. Jika perlakuan perempuan terhadap rahimnya buruk sehingga ia menjadi kotor, maka akan terjadi keguguran.

Sekarang wanita menjadi objek seks karena perempuan gagal memuliakan diri, tidak menonjolkan keempuannya, tapi malah menonjolkan keempukannya (pesona fisik dan seksualitas). Karena itu, pesona yang melekat pada perempuan adalah pesona keempukannya itu.

Padahal kecantikan sejati adalah kecantikan yang alami, yang memancar dari hati. Seorang wanita / gadis yang cantik adalah pribadi yang matang yang memancarkan kecantikannya lewat mata. Inilah kecantikan yang abadi. Sayangnya perempuan sekarang yang diburu adalah kecantikan kosmetik, pulasan, buatan, tipis, dangkal, palsu. Inilah yang dimaksud dengan kejatuhan akibat kehilangan visi kosmis. Wanita yang semestinya berperilaku seperti alam semesta, yakni menjadi penjaga, berubah menjadi penggoda. Karena itu ia tak lagi dimuliakan.

Hilangnya visi kosmis itu disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang kini banyak dijumpai akibat kemajuan teknologi. Jika kesulitan-kesulitan bisa membuat seseorang menjadi matang, kemudahan-kemudahan justru sebaliknya. Seharusnya perempuan itu lugu, jujur dan keibuan. Ini adalah kosep tradisional yang mengakui bahwa tegaknya suatu bangsa sangat bergantung pada perempuan yang menjaga kehormatannya.

Kemajuan teknologi harus disikapi secara tepat. Contoh: soal kondom. Kondom itu berguna bagi perencanaan keluarga kecil sejahtera. Tapi tanpa penyikpan yang betul, benda itu bisa menjadi alat bantu pengrusakan moral, karena seks bebas jadi aman. Sayangnya, sekarang ini itulah yang terjadi. pembangunan bukan lagi menjadi sarana untuk mencapai tujuan, tapi sudah menjadi tujuan itu sendiri. manusia akhirnya dikorbankan demi pembangunan.

Pendidikan harus mampu menolong anak menolong dirinya sendiri, terutama dalam membaca gejala alam secara benar. Dan itu hanya mungkin jika sejak dini anak sudah mendapat pembiasaan yang benar. Contoh: anak umur 1 sampai 9 tahun janganlah diajak ngomong tantang Tuhan, tapi sebaiknya dilatih untuk tertib sampai si anak tahu bahwa alam itu tertib dan teratur hingga memunculkan pertanyaan: mengapa bisa teratur? Pertanyaan dari dalam diri si anak itulah yang terpenting. Yang lain, seharusnya pertentangan antara teori dan praktek, yang diajarkan dan yang dilakukan, ajaran dan kenyataan, dikurangi, bahkan kalau bisa dihilangkan karena akan membuat anak bingung dan frustrasi.

Pendidikan kita gagal menyiapkan tenaga siap pakai dan siap secara intelektual untuk menjalani kehidupan keluarga secara bermutu. Jika sekolah mengaku telah berhasil membangun dan menata kembali visi kosmis perempuan, seharusnya makin sedikit gadis-gadis terpelajar yang hobi “menonjolkan keempukannya”. Untuk itu diperlukan rekayasa sosial yang sistemik dan konsisten.

Memang, ratusan tahun yang lalu sudah ada peringatan bahwa akan tiba saatnya kaum perempuan tak lagi punya rasa malu, rasa keibuan, keempuan dan kerahiman, bahkan senang sekali memamerkan daya tarik seksualnya demi mempertahankan hidup. Masa itu akan berlangsung sampai ia bisa menjadi pelajaran, yakni 500 tahun. Setelah masa yang lama itu, keadaan akan pulih kembali. Masa kejayaan wanita akan datang lagi (alhamdulillah! -Kan.).

Sumber: http://id.shvoong.com

Categories: sastra | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: