Kolak, Ketan, Apem = Kenduri

Tinggal beberapa hari lagi kita semua akan meninggalkan bulan Ruwah, yaitu bulan yang boleh dibilang tepat sekali digunakan sebagai waktu untuk mengirim do’a atau sekedar menyambangi para arwah leluhur yang telah pergi mendahului kita.
Jika mengingat bulan Ruwah ini maka yang pertama menjadi kesan adalah mengenai kegiatan nyekar (tabur bunga)dan juga nyadran. Karena pada journal sebelumnya saya telah mencoretkannya, maka tulisan disini  tak akan membahas lagi hal yang sama.Saya hanya akan mengulas kembali mengenai uba-rampe (sarana) yang diperlukan sebagai pelengkap pada tradisi nyadran tersebut.

Sebagai uba-rampe pada acara genduren/kenduri memang ada beberapa makanan yang hukum (adat)nya  bersifat mengikat dan musti disediakan. Dan kebanyakan dari yang bersifat “harus ada” itu adalah makanan yang memiliki simbol-simbol tertentu. Sebagaimana yang musti ada pada tradisi nyadran adalah uba-rampe makanan yang berujud ketan, kolak, dan apem.

  • Menggunakan makanan berujud ketan karena jika kita tilik namanya, ketan itu bisa didefinisikan sebagai penyebutan lidah Jawa pada kata khotan  yang berarti kesalahan. Dari arti kesalahan inilah dituntutnya kita supaya selalu menginganya yang ternyata perbuatan salah itu adalah  berawal dari diri sendiri, dan dari sini selanjutnya diharapkan bisa selalu mengkoreksinya, tentu berawal dari diri pula, bukan dari orang lain.
  • Sementara kolak mengandung maksud pada kata kholaqo yang memiliki arti ‘mencipta’. ari kholaqo tersebut tercipta sebuah kata Kholiq, ataupun Khaliq.Ini artinya bersamaan dengan bulan Ruwah ini diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepadaNYA yaitu untuk mendoakan para leluhur tersebut, dan juga doa itu menuntut untuk diteruskan pula pada bulan-bulan berikutnya, baik Puasa, Lebaran dan bulan-bulan setelahnya.
  • Tak boleh ketinggalan adalah makanan bernama apem. Apem asal kata dariAfwam atau Afuan  yang berarti permintaan maaf. Dapat dijelaskan bahwa pada bulan ini hendaknya kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang sifatnya pemaaf dan bisa memaafkan orang lain.
Selain itu hal yang sepertinya menjadi paket dari bulan Ruwah adalah tradisi Padusan.
Puasa Ramadan yang bakalan dilakukan selama sebulan penuh adalah wajib hukumnya bagi yang memiliki syarat Iman terhadap Islam (Al Baqarah 183). Laku Puasa tersebut oleh orang-orang tua dahulu juga dimaknai  sebagai laku (perbuatan) prihatin.
Sementara syarat yang diberlakukan bagi orang-orang yang mau mengerjakan tindakan atau lelaku Prihatin pada waktu itu adalah melakukan laku adus banyu suci perwitasari. Laku adus banyu suci perwitasari adalah satu tindakan mandi (Jawa:adus) menggunakan sari-sari air yang sudah disucikan dengan  do’a. Tujuan laku mandi tersebut tak lain adalah untuk membersihkan  tubuh sebelum melakukan pembersihan batin dengan cara laku prihatin.Karena Puasa Ramadan yang akan dilalui selama sebulan penuh itu juga dianggap sebagai laku prihatin maka persiapannya pun musti dilakukan dengan cara padusanjuga. Padusan ini biasanya dilakukan pada satu atau dua hari menjelang hari pertama bulan Puasa, dan tempat yang digunakan sebagai sarana pemandian umum itu bisa disendang, di sungai, atau di mbelik (semacam sumur kecil yang memiliki sumber air jernih).
Di tempat yang bersifat umum inilah

di lakukan semacam ikrar dengan dipimpin oleh orang yang dipercaya sebagai sesepuh pada suatu kampung, isi ikrar tersebut adalah memantabkan hati untuk mengucapkan niat menjalankan laku prihatin berujud Puasa dengan menyertakan diri pada acara padus
an

sebagai sarana mandi sebagai maksud untuk membersihkan tubuh agar terbuang semua kotoran yang melekat di raga syukur-syukur dijiwa ini.Pada acara paket baik nyadran, nyekar ataupun padusan ini hal yang mampu dimaknai adalah  terjadinya satu bentuk kebersamaan. Tak peduli apa yang menjadi keyaqinan yang dianut, namun saat-saat seperti itu semua bisa berbaur menjadi satu melakukan kerjasama serta tindakannya pun seirama tanpa ada satu pengkotakan yang hanya dibedakan menurut kulit luar manusia saja.
Tradisi yang sungguh (menurut saya) sangat bisa memberi inspirasi kepada setiap umatNYA. Disinilah tercipta satu kesejatian bahwa kita manusia ini tercipta sama sebagai Makhluk didepan mata Tuhan, tak ada satu sisi pun dari kita ini bisa disombongkan didepan manusia lain.

Categories: Berita | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: