Togog Semar Kapok (bagi para pejabat disana)

Togog dengan tergopoh-gopoh menarik kain jarik bututnya masuk ke pelataran rumah Lurah Semar, sepi, ngga ada siapa-siapa…ah ada, tampak si Gareng lagi jongkok di pojokan halaman belakang dekat kandang kambing yang ngga ada kambingnya!

Eh reng, mana sedulurku Semar, aku perlu konsultasi perkara penting sama bapakmu, kalo ngga bisa pecah ndasku…mumet! heehh….!!Togog menghardik Gareng yang tampaknya bukannya mendengarkan omongannya tapi malah cuma ndlongop kayak kantong semar nunggu lalat!

Akhirnya Togog memutuskan langsung masuk aja ke rumah gedek jaman baheula ini, yang dari penampakannya lebih mirip kandang burung daripada rumah, Semar sendiri menjuluki rumahnya ini ”Rukan”….wooooooooooa keren to? Maksudnya tuu -suatu kali Semar menjelaskan- ”Rumah Bukan Kandang Burung Bukan”..hahaha.. Nyekekek si Semar sampe kuncungnya mobat-mabit menertawakan leluconnya sendiri. Itu duluuuuu….pikir Togog. Sekarang apa kabar sedulurku itu ya?

Di bawah jendela bambu yang kayaknya ngga pernah dibuka, teronggok macam buntelan bulat, tapi kok naik turun gitu….Togog mulai penasaran….diamatinya lebih dekat. Ternyata itu perutnya Semar. ”Mar.. Mar…hoeee…! Bangun hoooe..!! Krengkeeet….awalnya ada suara lalu buntelan daging tadi bergerak, menyusul kemudian suara …hhhhhh….sopo? Togog mikir…kok gitu suaranya, terdengar lemah tanpa semangat. ”Aku Togog Mar…bangun, tengah hari bolong kok masih ngebo gitu!” Setaunya Togog, Semar kerjanya memang tidur dan kentut tapi suaranya tetap menyiratkan gairah besar seorang pamomong, guru bangsa, pendidik terbesar, penasehat penuh kebijaksanaan…pokoknya top-lah. Namun kali ini yang terdengar adalah mirip suara dan sorot mata orang kena tipes…lemeees dan lunglai. Namun Semar akhirnya bergerak dan tanpa suara menuju belakang. Tak lama kemudian terdengar suara cebar-cebur….

Togog menghabiskan waktu dengan nyari-nyari kopi di meja, ketemu, tapi ngga menemukan gula merahnya. Jadilah minum kopi pait….”udah pait hidupku, ini masih ditambah minum kopi pait …..pahit semuanya!” ngedumel si Togog.

Duduklah kemudian dua saudara itu di bale-bale reyot satu-satunya di depan rumah. ”Mar aku perlu bantuanmu” ucap Togog membuka rangkaian curhatnya, contongnya mulai mecucu-mecucu menyiapkan kata. ”Aku mau pindah kubu, aku udah ngga betah jadi penasehat Kurawa, aku mau ikut kalian jadi punakawan Pendawa…!” Capek beratus tahun kukasih nasehat dan saran, percuma…..budeg semua, otak bebal, kepala mereka cuma isi cawet! Pokoke keseel aku, capek, nyerah, ngga kuat lagi aku menjalankan tugas jadi oposisi dan membawa mereka ke jalan kebenaran.! Mar…bantu aku ya, aku mau join kalian aja, bebas transfer dan ngga usah digaji sesuai UMP ya ngga papa..yang penting aku ada kerjaan dan dihargai!

Sampe kira-kira 2 jam moncong Togog mengkor sana mengkor sini, ludahnya dah gak kenal juntrungan nyiprat kemana-mana, dan akhirnya diam……………………………….,capek mungkin! ”Wis Gog, udah rampung le curhat? ujar Semar pada akhirnya. ”Ya ayo kalo mau join aku, tapi bukan jadi penasehat istana, ya join aku nganggur kayak gini, mau?” ”Heh”..sekarang Togog yang ndlongop…”nganggur?!” ceplos Togog.

Semar melanjutkan: Lha jangankan kamu Gog, yang harus kerja keras ngasi tau orang yang bebal dan memang jahat dari sononya, lha aku aja dah ngga kuat, capek ngajari tuan-tuanku di istana para Pendawa yang kesohor hebat itu. Kamu tahu kan, dulu para Pendawa itu orang-orang yang baik dan berbudi luhur, saat mereka diasingkan dan dibikin menderita sama Kurawa mereka tetap baik, sampai akhirnya Kurusetra pun dijadikan arena yang mengorbankan ribuan jiwa, ribuan anak jadi yatim, ribuan perempuan jadi janda…mereka semua pahlawan, untung mereka menang.! Tak butuh waktu lama kemudian muncul gegap gempita dan dengan pongahnya mereka mengatakan Merdeka!!! ”kayak mereka tahu aja artinya?”

Mereka lalu jadi orang kuasa tur sugih, tanah dan kekayaan mereka punya, jadi bos setelah bertahun-tahun jadi kere, kuli, budak, gepeng alias gelandangan dan pengemis, tapi sekarang mereka lebih parah daripada Kurawa. Mereka bukannya ngga tau salah dan benar, mereka orang yang tahu itu salah tapi ngga mau tahu. Mereka pinter, tapi ya minteri jelatanya, sok-sokan jadi orang baik, tapi ya gitu..di belakang, mereka ngrampok tanah, ngrampas perawan, ngambil proyek orang, nggusur sawah petani, hobinya naikin gajinya sendiri, bikin kolam renang di kantor, bikin pabrik yang isinya cuma lumpur thok..! Pokoknya lebih parah daripada Kurawa, kalo Kurawa mah memang keliatan jahatnya, lha kalo ini ngga je…manis di muka, pahit di belakang, kayak kopi ini” tunjuk Semar ke gelas kopi penuh lalernya.

Togog termangu-mangu, Semar nanar menatap anaknya si Gareng yang masih ndodok di dekat kandang..”kenthir anakku,” pikir Semar lalu melanjutkan omongannya ”merdeka itu bukan perkara ”bebas dari” tapi upaya keras bagi ”bebas untuk”. Untuk apa, ya membawa kebaikan melebihi para penjajah Kurawa dulu dan membebaskan kepala dari cara mikir yang sempit.. Sekarang Bos-bos Kurawa dah tumpes, cuma tinggal para coro-nya…eh malah Pendawanya pada keblinger, ngrasa sok bener sendiri, lupa sama rakyat yang dulu ngasi mereka nasi tiwul waktu susah. Ngga ada beda ama kambing ngga diiket! Bener juga kata Pakde Freire, ya Gog, ”orang yang dijajah itu jauh lebih berbahaya daripada penjajahnya, ketika mereka ada di tahta kencana”

”Jadi orang merdeka itu ternyata lebih susah ya daripada perang merebut kekuasaan melawan orang-orang jahat bermuka keling dan merah kayak kakap itu ya?” timpal Togog lagi. Semar dengan kecut hanya merenges… lalu menyambung: ”Merdeka itu ibarat menanam pohon, sejak awal adalah proses mencintai dan menaburkan harapan agar benih yang kita tanam akan menjadi pohon besar dan mampu membawa kemakmuran bagi orang lain. Merdeka bukanlah merampas pohon orang untuk kita nikmati buahnya.” ”Cling!”…Semar, sang guru bangsa kembali, begitu pikir Togog. ”Merdeka yang diartikan menang perang itu kuno, tidak cerdas, dangkal, dan ciri utama bangsa rendahan karena mereka menilai perang itu adalah soal menghancurkan”. ”Seseorang yang hebat dan berjiwa merdeka adalah orang yang selalu berpikir untuk membangun”, kembali Lurah Semar nyambung.

”Seorang mpu istana sabrang bernama Paulo Coelho dalam kitabnya Gunung Kelima pernah punya kutipan nan cantik untuk menggambarkan arti kemerdekaan bagi para pejabat dan adipati kita saat ini Gog: ”jika kau belum mampu membangun, jangan pernah mencoba menghancurkan”. ”Heibat nasehat mpu ini Gog…”, ujar Semar sambil manggut-manggut.

Klepaat…! Mereka berdua refleks melongok ke arah jalan ketika mendengar riuh cericit anak kecil yang dengan ingus berleleran menyanyi ”…garuda di dadaku, garuda kebanggaanku…kuyakin hari ini pasti menang…”

”Mar, mungkin buat mereka lah kita ini masih ada gunanya, mereka masih bisa diajar apa arti merdeka, biarkan para adipati tua, gendakan, selir, pangeran dan demang-demang tua itu mampus dimakan belatung dan dihukum para dewa, tapi anak-anak ini adalah harapan kita.” Ini benih-benih pohon kita….” ucap Togog dengan mata berbinar.

Lima belas menit kemudian, mereka berdua sudah ada di tengah kerumunan sama bocah-bocah ingusan tadi, Semar menggoyanggeyolkan pantat gemuknya dan Togog membuka congor lebarnya dengan mantap menyanyikan ”…garuda di dadaku, garuda kebanggaanku…..”

Categories: wayang | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Togog Semar Kapok (bagi para pejabat disana)

  1. ayok esen, ahaha
    makasih visitnya aku juga udah visit tempatmu

  2. ayok semangat blogging !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: