Masjid Pathok Negoro Kraton Nyayogyakarta

Pathok Negara atau disebut juga Pathok Negari merupakan Masjid Kagungan Dalem Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebenarnya, Pathok Negara adalah nama salah satu jabatan dalam struktur pemerintahan di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu anggota penghulu pada peradilan Surambi. Para Pathok Negara diijinkan menenpati suatu desa perdikan dan dibangunkan sebuah masjid. Tentu saja sebagai pimpinannya adalah para Pathok Negara tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, para penghulu Pathok Negara sekaligus sebagai pimpinan jamaah masjid di desa perdikan. Adapun fungsi Masjid Pathok Negara selain tempat peribadatan adalah sebagai tempat belajar (mengaji), majelis taklim, tempat pemerintahan, peradilan serambi, sekaligus tempat pertahanan, disamping untuk tempat upacara kematian, pernikahan, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Masjid Pathok Negara dibangun sekitar tahun 1723 – 1819, dimana empat Masjid Pathok Negara dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, sedangkan untuk Masjid Wonokromo dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IV (walaupun rencana pembangunan masjid ini sudah ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I). Dan khusus untuk Masjid Wonokromo ini tidak dipimpin oleh seorang Pathok Negara.
Masjid Pathok Negara terletak di luar Kutanagara, yaitu di wilayah Negara Agung (antara 5 – 10 km dari Kutanagara/pusat pemerintahan). Letaknya adalah sebagai berikut: 

  • Selatan: Masjid Dongkelan (Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul) dan Masjid Wonokromo (Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul)
  • Timur: Masjid Babadan (Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul)
  • Utara: Masjid Ploso Kuning (Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman)
  • Barat: Masjid Mlangi (Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman)

MASJID PATHOK NEGARA PLOSO KUNING

Letak masjid ini sekitar sembilan kilometer arah utara dari Kraton Yogyakarta. Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning didirikan di atas tanah kasultanan seluas 2.500 meter persegi. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Di antara kelima masjid Pathok Negara milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negara “Sulthoni” di Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya.

Masjid Pathok Negoro didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Dalam perkembangan saat ini, arsitektur trradisional telah banyak mengalami perubahan dan salah satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern di Indonesia. Hal di atas juga berpengaruh terhadap Masjid Pathok Negoro yang ada. Dari kelima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning saja yang sampai saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya.

Keaslian Masjid pathok Negoro Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap dimana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid. Dulu, penutup atap masjid menggunakan sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng pada tahun 1946.

Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa dengan menggunakan semen merah, kemudian pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu juga dengan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal 2 batu, namun karena terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya ada satu dan sangat rendah yang menyebabkan ruang masjid menjadi gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan agar setiap orang yang masuk masjid hendaknya menunduk dan menunjukkan rasa tatakrama serta sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian menyebabkan ruangan di dalam masjid menjadi gelap, sehingga pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian serta ditambah jendela di ruang dalam masjid.

Semua penambahan dan perbaikan bangunan pada masjid, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Sinuhun Kanjeng yang berada di kraton, baik mengenai bentuk dan modelnya. Beberapa tahun terakhir, takmir masjid mengadakan perbaikan dan penambahan ruang yang ada di samping kanan dan kiri masjid. Hal ini bertujuan agar kegiatan pengajian dan tadarus dapat berlangsung nyaman sekaligus untuk menambah shaf putri. Pada ruang dalam masjid terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penahan konstruksi atap. Semua tiang penyangga ini sebagian besar masih asli dan terbuat dari kayu jati.

Di depan masjid terdapat dua kolam dengan kedalaman 3 meter. Setiap orang yang akan memasuki masjid harus bersuci terlebih dahulu di kolam itu. Makna lain dari 2 kolam ini adalah apabila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya. Saat ini kolam tersebut juga digunakan untuk memelihara ikan serta untuk mencuci kaki sebelum masuk ke mesjid.

Di dalam masjid, terdapat mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini juga dilengkapi dengan sebuah tongkat yang dipakai oleh khatib pada saat memberikan khotbah yang sampai sekarang masih digunakan. Masjid ini juga masih menganut adat lama dimana adzan pada saat sholat Jum’at dilakukan 2 kali. Dahulu sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka. Begitu juga dengan khotbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 adat tersebut berubah, muadzin yang semula berjumlah 5 orang menjadi 2 orang, tetapi adzan tetap dilakukan 2 kali. Khotbah juga diganti dengan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini memiliki pintu gerbang yang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam dan ikhsan. Pada 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada 5 sedangkan pada 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu ada 6.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, masjid ini kembali mengalami renovasi pada bagian serambi dan tempat wudhu. Renovasi ini dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Pada tahun tersebut masyarakat secara swadaya juga mengganti lantai tegel masjid dengan keramik, memasang konblok di halaman serta mendirikan menara pengeras suara.

Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.

MASJID PATHOK NEGORO AD-DAROJAT BABADAN

Pada pembangunan awal di tahun 1964, bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.

Pada tahun 1993 akhirnya pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membangun joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, serta tempat wudhu dan wc dilakukan pada tahun 2001. Atas kesepakatan para tokoh agama setempat pada tahun 2003, mustoko yang asli yang terbuat dari tanah liat tidak jadi dipasang dan diganti dengan mustoko dari kuningan. Meskipun demikian mustoko yang asli sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Masjid Ad-Darojat.

Melalui peranan masjid ini, masyarakat Babadan begitu lekat dengan ajaran-ajaran Islam. Di tengah-tengah masyarakat pada akhirnya memang muncul beragam pandangan. Namun keragaman ini dapat disikapi denan bijak oleh warga masyarakat Babadan. Toleransi di kampung santri Babadan sungguh dapat menjadi teladan dalam kehidupan beragama di masyarakat. Terlebih dalam menyikapi adanya perbedaan pandangan di kalangan masyarakat, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam dalam menjalani syariat, tidak berlkaku bagi masyarakt perkampungan santri Babadan. Rasa toleransi ini telah terjalin sejak lama terutama dalm menghadapi bulan Ramadhan yakni pada pelaksanaan sholat tarawih. Fanatisme perbedaan faham antara NU dan Muhammadiyah dapat diantisipasi dengan baik oleh masyarakat Babadan.

MASJID PATHOK NEGORO MLANGI

Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter persegi, ruang perpustakaan 7 x7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi.

Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran. Prabuningrat.

Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.

Sayangnya, bentuk bangunan ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi. Pada waktu itu, air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

Hal ini terjadi bersamaan dengan renovasi yang dilakukan tahun 1985. Panitia pembangunan, pada saat itu sowan dulu ke Kraton meminta izin untuk renovasi. Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya. Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. Sekalipun demikian, bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m ; sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.

Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.

Mimbar yang ada di masjid ini juga termasuk yang masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga memper- tahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.

Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah kerajaan Ngayogyokarto. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itulah masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami’ Mlangi.

Sekalipun demikian, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.

Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Sekalipun demikian, pesona masjid ini tetap memikat banyak orang untuk datang baik yang bertujuan untuk sholat maupun berziarah. Hal ini terbukti setiap diadakan khaul, mereka yang hadir umumnya telah berulang kali datang.

Diserahkannya pengelolaan masjid ke masyarakat memang bisa dipahami. Di wilayah Mlangi terdapat sembilan pondok pesantren yang dipimpin oleh para kyai yang merupakan keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama’ah dan jum’atan. Sedangkan kuliah dilaksanakan di pondok masing-masing. Pondok-pondok tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi’in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.

Pola kepemimpinan Kyai selalu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari dengan slogan “tahu amal dan tahu ilmu”, artinya sukses dunia akherat. Cerminan seperti itu masih terlihat sampai sekarang sehingga di dusun Mlangi sulit dicari orang yang malas bekerja apalagi malas beribadah khususnya sholat.

Kehidupan beragama di sana juga membanggakan, sehingga gangguan-gangguan dari luar seperti pencuri dapat dikatakan tidak ada. Berdasarkan cerita dari warga barang yang hilang sering kembali sendiri. Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba’dal subuh dan ba’dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran. Ketua ta’mir masjid pada saat ini dipercayakan kepada K. H. Muhtar Dawam dan di dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh kyai-kyai yang lain.
Kegiatan Masjid Jami’ Mlangi selama Bulan Ramadhan adalah dengan dilaksanakannya Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah. Daerah ini juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Romadhon. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.

Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahandanipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran Islam.

Semangat inilah yang terus menggelora. Menurut Kyai Nur Iman, dalam memperjuangkan Islam kita harus bersungguh-sungguh. Sebab itu, tradisi “jenang manggul”, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.

Nama Kyai Haji Nur Iman telah membawa nuansa Islami bagi masyarakat luas. Makamnya pun sampai sekarang banyak diziarahi orang. Hal itu terbukti bahwa hampir 200 orang per hari, hadir tamu dari luar daerah yang bermaksud mengunjungi masjid sekaligus ziarah ke Makam Kyai. Bahkan pada hari-hari tertentu pengunjung mencapai 500 orang. Umat Islam yang telah berkunjung biasanya bercerita kepada orang lain dari cerita tersebut juga ditindaklanjuti untuk ikut berkunjung. Semua ini tentu membawa berkah, tidak saja bagi yang berkunjung tapi juga bagi masyarakat sekitar.

MASJID PATHOK NEGORO TAQWA WONOKROMO

Masjid Pathok Negara ini terletak cukup jauh dari keramaian kota, tepatnya bersebelahan dengan tempuran antara sungai Opak dan Oya. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah putih seluas 5000m2. Luas bangunan masjid ini saat didirikan adalah 420 m2 dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750m2. Bagian serambi luasnya 250 m2, dan ruang perpustakaan seluas 90 m2, dan halaman seluas 4000 m2.

Sejarah berdirinya masjid Taqwa bermula dari seorang tokoh yang bernama Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam. Dia bertempat tinggal di desa Ketonggo. Selain itu, ia senang membuat ‘Welit’ (atap rumbia) tapi terbuat dari daun ilalang bukan dari daun tebu. Karena hasil kerjanya itu ia dikenal dengan sebutan “Kyai Welit”. Welit-welitnya tidak terjual, hanya kalau ada orang membutuhkan diberikan begitu saja.

Pada suatu ketika Sultan Hamengkubuwono I hendak menemui Kyai Moh Fakih. Setelah bertemu, Sultan Hamengkubuwono I mengutarakan kehendaknya untuk menuntut ilmu atau “ngangsu kaweruh”. Namun Kyai Moh. Fakih merasa keberatan, karena pada prinsipnya beliau memberikan ilmu hanya kepada murid-muridnya. Maka setelah itu, Sultan Hamengkubuwono I menyamar sebagai utusan Sultan. Penyamarannya ini tidak diketahui oleh Kyai Moh. Fakih. Karena niatnya yang sungguh-sungguh agar diterima sebagai murid, maka permintaan itupun dikabulkannya. Pada saat itu Sultan meminta nasehat kepada Kyai Moh. Fakih tentang bagaimana negara menjadi aman. Kyai Moh. Fakih menasehatkan, pertama, agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut “Pathok”.

Pathok-pathok ini dikemudian hari karena jabatannya itu kemudian dianugerahi tanah perdikan (tanah bebas pajak). Kedua, Sultan harus memilih “Kenthol” (kepala pedesaan/desa) yang karena tugasnya ia diberi tanah pelungguh.
Saran tersebut disetujui oleh Sultan Hamengkubuwono I. Pathok-pathok tersebut ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning, Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng. Akhirnya Sultan memohon kepada Kyai Moh. Fakih agar sudi bersembahyang Jum’at di masjid Besar Yogyakarta, di hari Jum’at Kliwon. Selain itu Sultan mengutus utusan ke Laweyan Surakarta, memohon kepada Ki Derpoyudo agar bersedia bersembahyang pula di Masjid Besar Yogyakarta di hari jum’at Kliwon, sebab setelah selesai sholat Jum’at Sultan akan mengadakan sarasehan. Sarasehan yang di lakukan setelah sholat Jum’at itu antara lain diikuti oleh Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Moh. Fakih dan Ki Derpoyudo yang intinya membicarakan bagaimana agar negara bisa menjadi aman tentram. Pada saat itu Ki Derpoyudo memberikan keterangan kepada Sultan Hamengkubuwono I bahwa, Kyai Moh. Fakih itu adalah putra menantu dari anaknya yang sulung. Dengan kata lain, Kyai Moh Fakih adalah kakak ipar Sultan Hamengkubuwono I, sebab Sultan adalah menantu Ki Derpoyudo dari putrinya yang kedua.
Sejak peristiwa itu, Sultan sangat cinta dan asih kepada Kyai Moh. Fakih, karena di samping kakak iparnya, ia juga sebagai gurunya, sehingga ia sering dipanggil “Ngabiyantoro” (menghadap ke Kraton).
Pada tahun 1702-1775 M Sultan Hamengkubuwono I berniat menunaikan ibadah haji. Karena keadaan belum begitu aman, beliau mengutus Kyai Moh. Fakih ke Mekah untuk menghajikan Sultan. Kyai Moh. Fakih bermukim selama dua tahun di Mekah, sebab di tahun pertama ia menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri, dan di tahun ke dua ia menunaikan ibadah haji untuk Sultan. Pada tahun 1701 1774 M dengan candra sengkala “Nyata Luhur Pendhita Ratu” Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan. Karena hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon awar-awar, maka disebut “alas awar-awar”. Tanah anugrah Sultan yang masih berwujud hutan awar-awar itu kemudian dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil.

Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih ngabiyantoro (menghadap) kepada Sultan untuk menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid. Atas amanat (kehendak) Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama “WA ANA KAROMA” yang maksudnya “Supaya benar-benar Mulya” atau “Agar Mulya Sungguh-sungguh”. Pengangkatan Kyai Moh. Fakih menjadi Kepala Phathok Negara itu hanyalah karena semata cinta dan asihnya dan jasa Kyai Moh. Fakih yang sangat besar terhadap negara.

Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranya KH Abdullah terdampar di selat Malaka.

ArsitekturMasjid

Arsitektur bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka dari kuwali yang terbuat dari tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan dengan satu pintu di depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, dan dindingnya dari gedhek. Begitu gambaran bentuk masjid ini di masa lampau.
Tempat wudhu terbuat dari padasan, yang ditempatkan di halaman masjid di sebelah utara dan selatan. Ada dua sumur dan ada dua pohon randu untuk tempat senggot menimba air. Bentuk bangunan serta bahan bangunan tak pernah berubah dalam kurun waktu yang sangat lama, sampai pada tahun 1867 M pada periode Kyai Muhammad Fakih II, baik atap bangunan maupun tembok ada sedikit perubahan. Atap bangunan diganti genteng dari tanah liat, tembok disusun dari batu bata yang direkatkan dengan tanah liat, lantai dibuat dari komposisi aci dari gamping dan tumbukan bata merah dan pasir.
Pada tahun 1913 M, bangunan masjid dirombak total, kerangka bangunan dari bambu diganti dengan kayu nangka. Tembok diplester (ditembok) dengan komposisi pasir dan acian kapur dengan tumbukan bata merah. Demikian juga lantainya diganti dengan komposisi bahannya seperti komposisi bahan untuk tembok.
Pada awal berdirinya, bentuk masjid masih sangat sederhana dan apa adanya. Serambi masjid berbentuk limasan, sedang bangunan masjid berbentuk kerucut. Bentuk bangunan ini bertahan sampai tahun 1867 M. Pada tahun ini, oleh Kyai Muhammad Fakih II bentuk bangunan masjid dibongkar diganti dengan bentuk atap tumpang. Sedang bangunan serambi tetap berbentuk limasan. Di puncak atap tumpang, mustoko yang dulu hanya dari kuwali yang dibuat dari tanah liat kemudian diganti dengan bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka.
Tidak hanya bentuk bangunannya yang diubah oleh Kyai Muhammad Fakih II. Kerangka yang semula bambu sebagian besar diganti dengan kayu nangka dan sebagian dengan gelugu. Tembok yang semula hanya dari gedhek (anyaman bambu) diganti dengan batu bata yang direkatkan dengan tanah liat yang diplester dengan adukan aci gamping dengan tumbukan bata dan pasir. Demikian juga lantainya dibuat dari bata yang ditata lalu diplester dengan adonan seperti membuat tembok. Oleh Kyai Muhammad Fakih II, ruangan di dalam masjid ditambah. Di sisi kiri dan kanan bangunan masjid atau sebelah utara dan selatan ruangan masjid dibuat ruangan untuk jamaah sholat bagi kaum putri yang disebut pawestren. Tempat wudhu yang semula dari padasan, kemudian dibuatkan kolam di depan serambi masjid. Air dialirkan dari sungai Belik.
Pada tahun 1958, bangunan masjid kembali dibongkar. Bentuk bangunan masjid dengan bentuk atap tumpang tetap dipertahankan, malah ditambah dengan gulu melet sebagai penyela antara atap tumpang sebelah atas dan atap tumpang sebelah bawah.
Bangunan serambi masjid diperluas. Kolam di tempat wudhu diurug (ditimbun) tanah dijadikan halaman masjid. Tempat wudhu dibuat kulah yang berada di sisi utara dan selatan serambi masjid. Pawestren tempat jamaah sholat untuk kaum putri tetap dipertahankan. Bangunan masjid diganti tembok yang disemen. Empat tiang utama di dalam masjid menjadi terlihat jelas. Tempat khotib dibuatkan rumah-rumahan semacam gazebo ukuran 2 x2 m. Di bagian serambi ada beberapa tiang dari cor beton dan di dalam serambi tiang dibuat dari balok kayu jati. Di depan serambi masjid dibuat kanopi (kuncungan). Lantai ruangan masjid maupun serambi diganti dengan tegel. Di dalam ruangan masjid, tegel dibuat warna warni dengan corak ornamen kembang-kembang. Pembangunan masjid ini atas biaya dan dana dari H. Prawiro Suwarno atau Tembong dari Kotagede.
Tahun 1976 M, mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka, diganti dengan mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari aluminium dengan ukuran yang lebih besar. Pada tahun 1986 M, masjid mendapat bantuan dari Presiden RI sejumlah Rp. 25.000.000,- Karena kondisi masjid sudah banyak yang rusak, utamanya kayu penyangga yang lapuk karena terkena tetesan air hujan, maka bangunan masjid atas izin tertulis dari Keraton, atau istilahnya dapat palilah dalem, bangunan masjid dibongkar dan diperluas. Bantuan ini langsung diambil kepada Zahid Husain oleh Kyai Makmun, dengan didherekke Moh. Da’in Santoso, Drs. Munawir dan Moh Wasul Baii.
Secara total, masjid dibangun dengan konstruksi beton bertulang, dengan rancangan gambar yang dibuat dan dirancang oleh insinyur bangunan, dengan tidak meninggalkan arsitektur masjid corak Jawa Yogyakarta. Hal ini juga memenuhi dhawuh dalem agar jangan meninggalkan corak kejawennya, yang tertuang dalam surat palilah dalem. Termasuk dalam pemilihan warna catnya antara komposisi hijau, kuning dan merah serta kuning emas (prodo) karena warna-warna ini mengandung nilai filosofis yang dalam. Ada catatan menarik, pada saat itu masyarakat ingin membuat menara dari konstruksi beton. Tapi rencana itu tidak terealisir karena keraton tidak mengizinkan karena corak masjid Yogyakarta tidak ada menaranya.
Pada tahun 2003 M, masjid ini mendapat bantuan pengembangan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta. Kemudian dbangun gedung pertemuan yang terletak di utara serambi masjid. Kulah dibikin simetris antara kulah di sebelah utara serambi masjid dan di sebelah selatan serambi masjid. Ada penambahan bangunan kanopi (kuncungan) dan dihidupkannya kolam di depan di sisi kiri dan kanan serambi masjid. Juga penyempurnaan dapur untuk memasak air pada saat dilaksanakan hari-hari besar Islam di masjid taqwa.


Nama Masjid Taqwa

Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun, masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.

Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma’rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.

Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi (kuncungan) di serambi masjid.
Kelengkapan Masjid
Pada zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kenthongan dan bedhuk, dengan diceburkan di dalam kolam.
Untuk tanda waktu masuk sholat, selain adzan, dibuat kenthongan dan bedhuk. Suara dan irama bedhuk di hari-hari biasa lain dengan saat tanda masuk sholat ‘ashar di hari Kamis. Suara irama bedhuk disebut dengan sarwo lemah, ‘asar dowo malem jemuah. Kalau saat masuknya waktu ‘ashar di hari Kamis, bedhuk itu dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang (dowo). Maka apabila suara bedhuk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum’ah. Apalagi saat-saat menjelang pelaksanaan sholat Jum’ah, setengah jam sebelumnya bedhuk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk disela-selai pemukulan kenthongan. Ini menandakan bahwa pelaksanaan ibadah Jum’ah sudah akan dimulai.
Tahun 1973 M, seorang warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan seperangkat alat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk mengumandangkan adzan. Maka pada tahun inilah ada tonggak sejarah masjid adzan dikumandangkan dengan pengeras suara. Pada saat itu, peristiwa ini menjadi sangat surprise, karena saat itu inilah satu-satunya masjid kidul negoro sing nganggo pengeras.

Peran Masjid Taqwa dari Waktu ke Waktu

Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini untuk jama’ah sembahyang Jum’at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua di wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya. Masjid ini juga dikelilingi pondok-pondok pesantren, yang santrinya berasal dari berbagai daerah antara lain seperti dari Cirebon. Bahkan ada yang berasal dari Singapura. Daerah ini dahulu merupakan kota kecil di pedesaan dan sangat ramai dikunjungi orang untuk mendapatkan pelajaran agama, bahkan sampai sekarang masih merupakan pusat-pusat pengajian.
Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping untuk sholat jama’ah para gerilyawan RI juga sebagai tempat koordinasi untuk menggempur Belanda yang berkedudukan di Pleret. Daerah ini merupakan basis kekuatan militer dan pejuang serta kekuatan masyarakat dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yang bermarkas di Pleret maupun di Bantul, serta penjaga kekuatan Belanda dari Kota Kraton.

Secara khusus, masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer Compi III Batalion I Brigade 10 yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.

Pada zaman pembangunan, serambi Masjid Taqwa Wonokromo digunakan untuk pengajian-pengajian dalam mempersiapkan mental Ketaqwaan kepada Allah SWT, memperdalam taukhid, keimanan dan keislaman serta akhlak yang diarahkan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Adapun pesertanya meliputi banyak orang antara lain : dari wilayah Kecamatan Pleret, Piyungan, Banguntapan dan Jetis, bahkan ada yang dari wilayah Kecamatan Bambanglipuro dan Dlingo.

Upaya Pemakmuran Masjid

Pada awal berdirinya, belum dikenal istilah takmir masjid untuk mereka yang mengurusi kemasjidan. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik untuk urusan fisik masjid maupun urusan peribadatannya. Hal ini berjalan sampai tahun 1913 M, sebab pada tahun 1913 M, bagi orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah.
Selain itu, sudah ada pengorganisasian tentang perangkat masjid. Misalnya khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin. Masing-masing muadzin sudah memiliki tugas masing-masing. Yang istimewa, pada saat sholat Jum’at, pelaksanaan adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama dilakukan sebagai tanda saat masuknya waktu sholat dhuhur (masuk waktu sholat Jum’at). Pada saat adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, ‘asar, maghrib, isya’ berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan bersama-sama.

Hal ini dimaksudkan supaya ada keadilan, bersatu dan bertemunya para muadzin dari masing-masing waktu, maka di sini dikenal dengan istilah adzan limo. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.

Organisasi bagi orang-orang yang mengurusi urusan kemasjidan yang disebut khodimul ummah ini berjalan dari tahun 1913 M sampai tahun 1969 M. Pada tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun. Periode ini berjalan dari tahun 1969 M sampai tahun 1990 M. Makmun meninggal tanggal 2 Mei 1990 M. Sepeninggal Kyai Makmun pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.
Kepengurusan masjid Taqwa ini dimulai oleh Kyai Muhammad Fakih (1755 M 1763 M), Kyai Abdullah (1763 1808 M), Kyai Ibrahim (1708 1863 M), Kyai Muhammad Fakih II (1863 1913 M), Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat (1913 1953 M), Kyai Dimyati (1953 1969 M), Kyai Makmun (1969 1990 M), Kyai Moh Syifak (1990 1994 M), R. Zaenuri Isma’il (1994 1997 M), Drs. Muhammad Wakhid (1997 2000 M), Kyai Isma’il (2000 2003 M), Kyai Ismail (2003 M 2006 M), dan Kyai Ismail (2006 sekarang [2007]).

Selain berfungsi untuk kegiatan jamaah sholat lima waktu dan sholat Jum’ah, ada beberapa fungsi masjid Taqwa yang istimewa bagi masyarakat Wonokromo, antara lain untuk kegiatan jamaah sholat tarawih. Kegiatan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, masjid ini juga digunakan untuk pengumpulan zakat fitrah dan mal bagi warga masyarakat Wonokromo dan sebagai tempat untuk saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal dengan sitilah bodho kupatan.
Untuk pengumpulan ternak kurban, penyembelihan serta penyalurannya bagi warga Wonokromo dupusatkan di masjid ini. Tiap tanggal 6 dan 7 Syawal diadakan majlis sima’atul qur’an sekaligus dalam upaya menumpulkan balung pisah karena yang disemak atau para hufadz-nya adalah warga keturunan (trah) Wonokromo.

Masjid ini juga digunakan sebagai tempat untuk memberangkatkan dan menerima kedatangan Jam’ah haji warga Wonokromo. Selain itu juga untuk kegiatan akad nikah bagi warga Wonokromo.

Categories: status | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Masjid Pathok Negoro Kraton Nyayogyakarta

  1. Ping-balik: MASJID PATHOK NAGARA; Mercusuar Peradilan Islam Di Kraton Kasultanan Yogyakarta | Gus Uwik

  2. Ping-balik: - Gus Uwik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: