Seperti Pohon Pisang

“Mati sebelum berkarya bukanlah sebuah kematian yang indah”

Ayahku bukan sengaja menanam pohon pisang di kebun rumah..ya memang kebun di sebelah rumah adalah tanah tambahan / sisa dari membeli rumah di pinggiran sungai. Tapi yang unik adalah pohon pisang itu tak tahu kapan ditanamnya, tapi yang namanya pohon pisang itu selalu ada, sampai sekarang.

Di pohon pisang yang sudah mati kemudian ditebang biasanya kami menaruh potongan rambut di tengah pohon pisang itu dengan harapan rambut yang sudah dipotong akan tumbuh sebagaimana pohon pisang yang sudah mati akan selalu menumbuhkan pisang pisang kecil di sekelilingnya.

Sebenarnya kalo dipikir-pikir kenapa orang tua mengajari kita hal yang aneh seperti itu.. bingung juga menjawabnya, itu hanya pemikiran orang tua dulu yang amat mustahil. Tapi setelah beranjak dewasa, baru terpikirkan mengapa orang tua jaman dulu mengajari anak anaknya untuk menaruh potongan rambut ke tengah tengah pohon pisang yang baru ditebang.

Ternyata pohon pisang mengajarkan sebuah makna kehidupan. Pohon pisang mengajari kita makna berkarya dan memaksimalkan potensi untuk menurunkan kehidupan pada generasi setelah kita atau istilah lainnya adalah kaderisasi. Pohon pisang sebelum mati telah memikirkan bagaimana dia memberi manfaat sebelum dia mati.

Pohon pisang mati setelah berbuah. Dimana buah itu dinikmati oleh manusia dari mulai daunnya, buahnya, jantungnya sampai batanganya atau kalo di Tegal istilahnya kedebog. Dan sebelum mati, pohon pisang telah memastikan tunas tunas di sebelah mereka itu tumbuh. Itulah ilmu kehidupan yang diajarkan oleh pohon pisang. Menjadi makhluk yang manfaat, tidak egois, dan menghidupkan kehidupan.

Dan itu telah diilhamkan oleh Alloh untuk menjadi pelajaran bagi manusia untuk menjadi manusia yang manfaat di dalam hidupnya sebelum ajal menjelang…

Mati sebelum berkaya bukanlah sebuah kematian yang indah. Kematian akan terasa indah jika setelah mati orang masih mengenal kita lewat karya yang kita persembahkan kepada mereka. Dia kembali menata hidup dari titik nol. Memulai dengan menyerap air dan sari tanah untuk menumbuhkan batangnya. Hari demi hari dijalani penuh kesabaran menunggu batang membesar dan daun melebar. Ketika semuanya sudah siap, pohon pisang mulai mengeluarkan bunga yang kemudian menjadi buah. Semakin besar buah dia semakin mengerti bahwa umurnya semakin berkurang. Dan ketika buah sudah matang, pohon pisang dengan segala kerelaan menyambut kematian.

Mumpung masih muda, masih diberi kesehatan dan potensi luar biasa dari Alloh, mari kita gunakan apa yang ada dalam diri untuk sebaik baik kemanfaatan umat. Diri kita, waktu kita, harta kita, ilmu kita bisa kita berdayakan sehingga menjadi manfaat bagi orang orang di sekitar kita. Bisa jadi manfaat itu akan dirasakan ketika jasad ini tak lagi bernyawa, maka karya itulah yang akan menjadi saksi kemanfaatan diri kita sebagai makhluk yang memberi kehidupan, bukan makhluk yang menjadi parasite kehidupan orang lian.

Yuk..berkarya..bermanfaat….

Categories: status | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: