Ladrang Wilujeng Sebagai Sarana Untuk Mencegah Pernikahan Dini

Sekarang ini banyak remaja yang menikah pada usia dini karena terjerumus dalam pergaulan bebas. Padahal, pernikahan memerlukan kesiapan fisik, mental, maupun kesiapan sosial dan ekonomi. Pernikahan pada usia dini berdampak pada kesehatan para remaja karena organ reproduksi yang belum matang meningkatkan resiko kematian ibu dan bayi saat melahirkan, emosi yang masih labil menyebabkan ketidakharmonisan keluarga, dan lain-lain. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah pernikahan dini adalah dengan mempelajari filosofi kebudayaan kita sendiri yaitu melalui gamelan Jawa. Banyak gendhing1) Jawa yang berisi nasihat-nasihat kepada remaja, salah satu contohnya adalah Ladrang Wilujeng. Namun, remaja zaman sekarang tidak lagi berminat untuk mempelajari kebudayaan tersebut karena mereka menganggapnya sebagai hal yang kuno sehingga mereka terjerumus dalam pergaulan bebas.

Gamelan Jawa atau karawitan berasal dari kata rawit yang berarti rumit tetapi halus dan berirama. Gamelan Jawa mengandung nilai historis karena merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari dan ditekuni. Gamelan Jawa mengandung nilai filosofis karena merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya sebab filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budaya dan religi yang dianut. Selain itu, gamelan Jawa memiliki fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, proses pembelajaran melalui media seni khususnya gamelan Jawa lebih efektif digunakan karena akan memberi motivasi bagi remaja zaman sekarang untuk menjadi remaja yang berhasil.
Ladrang Wilujeng merupakan salah satu dari sekian banyak gendhing Jawa yang umum dikenal. Wilujeng berarti kemakmuran dan nasib baik. Ladrang Wilujeng terdiri dari beberapa bait dan setiap bait terdiri dari empat baris yang berisi pesan–pesan moral kepada para generasi muda (kemakmuran dan nasib baik merupakan arti dari kata “wilujeng” yang bertumpu pada generasi muda). Bagaimana Ladrang Wilujeng dapat digunakan sebagai sarana untuk mencegah pernikahan usia dini?
Sebelum penulis menjelaskan bagaimana Ladrang Wilujeng dapat digunakan sebagai sarana mencegah pernikahan usia dini, terlebih dahulu penulis akan memaparkan terjemahan Ladrang Wilujeng bait pertama dan kedua dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
1. Bait pertama
Parabesang smara bangun
• Arti dalam bahasa Jawa: apeparap sang Prabu Asmara Bangun..
• Arti dalam bahasa Indonesia: tersebutlah seorang raja yang bernama Asmara Bangun.
Sepat domba kali Oya
• Arti dalam bahasa Jawa: iwak gedhe sing ana kali Oya (wangsalan).
• Arti dalam bahasa Indonesia: ikan besar yang ada di Kali Oya.
Aja dolan lan wong priya
• Arti dalam bahasa Jawa: aja dolan karo wong priya (wong lanang).
• Arti dalam bahasa Indonesia: jangan terlalu dekat dengan anak laki-laki.
Geramehna ra prasaja
• Arti dalam bahasa Jawa: jalari remeh (batangan = iwak gurameh) lan ora prayoga.
• Arti dalam bahasa Indonesia: apabila seorang perempuan terlalu dekat dengan anak laki-laki maka akan diremehkan orang lain.
2. Bait kedua
Garwa sang sindura prabu
• Arti dalam bahasa Jawa: garwane Sang Prabu Sindura (wangsalan)
• Arti dalam bahasa Indonesia: istri Raja Sindura.
Wicara mawa karana
• Arti dalam bahasa Jawa: micara kudu nggunakake waton/karana (batangan = Candrakirana)
• Arti dalam bahasa Indonesia: dalam berbicara harus menggunakan pedoman etika.
Aja dolan lan wanita
• Arti dalam bahasa Jawa: aja dolan karo wanita (wong wadon)
• Arti dalam bahasa Indonesia: jangan terlalu dekat dengan anak perempuan.
Tan nyata asring katarka
• Arti dalam bahasa Jawa: nyatane mundhak dicandra kang ora becik.
• Arti dalam bahasa Indonesia: pada kenyataannya nanti akan dianggap tidak baik bagi seorang laki-laki.
Sebagian besar remaja salah dalam menafsirkan arti “pacaran” yang sebenarnya bertujuan untuk saling mengenal karakter dan kepribadian satu sama lain serta menjalin suatu kecocokan pada jenjang lebih tinggi yang berarti meniti hari kemudian yang lebih baik. Kesalahan itu terletak pada “pengenalan” yang tidak tertuju pada karakter dan kepribadian, tetapi tertuju pada hubungan fisik yang dimulai dari saling memandang, memegang, dan menegang yang akan mengarah pada penyimpangan seksual di kalangan remaja dan kehamilan di luar nikah yang berujung pada pernikahan usia dini.
Kesalahan tersebut terjadi karena para remaja belum dapat sepenuhnya mengendalikan hawa nafsu karena kurangnya pemahaman spiritual dan kurangnya pemahaman tentang pendekatan tersebut. Di dalam Ladrang Wilujeng terdapat pesan tersirat bahwa para remaja tidak diperbolehkan untuk berhubungan terlalu dekat dengan lawan jenisnya karena akan terjadi hal-hal yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal-hal tersebut adalah:
1. Hancurnya cita-cita di masa depan.
Mereka yang telah hamil dan menikah pada usia dini tidak dapat meraih cita-cita yang mereka inginkan karena mereka harus menanggung beban moral yang harus ditanggung baik oleh dirinya sendiri maupun keluarga.
2. Keturunan yang dihasilkan pada umumnya kurang sehat atau kurang baik karena berasal dari spermatozoid dan ovum yang belum matang yang berasal dari organ reproduksi yang belum matang pula.
3. Kurangnya keharmonisan keluarga di masa mendatang karena remaja yang menikah pada usia dini belum siap untuk menghadapi masalah dalam kehidupan berumah tangga yang beraneka ragam karena pada dasarnya keadaan emosi mereka masih labil.
4. Kesehatan
Staf pengajar Bagian Obsgyn FK UI dr. Nugroho Kampono, Sp.OG dalam talkshow “Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Payudara” di Jakarta mengemukakan bahwa perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun berisiko terkena kanker leher rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Jika terkena Human Papiloma Virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker. Selain itu, penelitian di Kenya dan Zambia menunjukkan pengantin remaja dapat tertular HIV lebih cepat daripada remaja yang belum menikah yang sudah aktif secara seksual di lokasi yang sama.
5. Menjatuhkan nama baik diri sendiri maupun keluarga karena hal tersebut akan menjadi aib keluarga dan menjadi bahan cerita pada masyarakat luas.
Seperti yang telah tersurat dalam Ladrang Wilujeng diatas bahwa dalam bergaul di dalam masyarakat kita dapat bercermin pada Prabu Asmara Bangun dan Galuh Candrakirana yang penuh dengan kehati-hatian, pengorbanan, pengabdian, dan perjuangan hidup untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan. Oleh karena itu, kita dapat menjadi remaja yang berhasil karena selalu berhati-hati dan terhindar dari seks bebas. Hal ini jika dipandang secara sepintas memang dianggap sebagai suatu pemikiran kuno, tetapi yang demikian itu pada kenyataannya merupakan penggalian sebuah filosofi yang tidak sembarang orang mengerti, khususnya mengenai filsafat Jawa/ kejawen.

Categories: status | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: