Hari Guru Titik Tolak Menuju Kualitas Tinggi

” Indah kenangan di hati, senyummu serupa bening embun di kelopak anggrek, guru, pahlawan tanpa tanda jasa, petuah-petuah kearifan, bekal kehidupan yang tak aus digerus deru waktu, pahlawan tanpa tanda jasa, engkau pun menggoreskan sejarah kemanusiaan yang sahaja perjuangan cita-cita nan mulia buat menciptakan generasi-generasi tangguh. engkau ajarkan cinta kasih, solidaritas, dan putihnya ketulusan untuk membangun semesta keindahan yang langgeng dan senantiasa memberkahi “

Hari ini, para guru memperingati Hari Guru ke-66. Sebuah peringatan yang semestinya tidak diperingati oleh para guru saja, melainkan oleh segenap anak bangsa. Bukankah bangsa ini ada dalam kondisi seperti yang sekarang ini tidak lepas dari peran serta para guru? Kita dapat membaca dan tentu saja menulis tajuk rencana Haluan ini juga lantaran peranan guru-guru kita di masa lalu.

Peranan  guru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah sedemikian rupa dan menjadi penentu maju mundurnya bangsa dan negara ini.

Tapi bukan berarti peranan para guru sampai di situ saja. Tidak, mereka juga harus terus menerus mengupdate kemampuan mereka mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didiknya setiap waktu.

Kata kuncinya adalah ‘kualitas pendidikan’. Jadi dalam rangka mencapai mutu yang tinggi dalam bidang pendidikan, peranan guru sangatlah penting bahkan sangat utama. Untuk itu, maka profesionalisme guru harus ditegakkan dengan cara pemenuhan syarat-syarat kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap guru, baik di bidang penguasaan keahlian materi keilmuan maupun metodologi.

Dalam keseharian, guru harus bertanggungjawab atas tugas-tugasnya dan harus mengembangkan kesejawatan dengan sesama guru melalui keikutsertaan dan pengembangan organisasi profesi guru. Untuk mencapai kondisi guru yang profesional, para guru harus menjadikan orientasi mutu dan profesionalisme guru sebagai etos kerja mereka dan menjadikannya sebagai landasan orientasi berperilaku dalam tugas-tugas profesinya.

Dalam perkembangannya, disadari bahwa profesi guru belum dalam posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Pada saat diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan yang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi y
Menghadapi masa depan, maka tantangan para guru juga semakin kompleks. Tantangan itu antara lain berupa terjadinya perubahan atas peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesionalisme guru.ang sangat pesat, dipahami bahwa banyak tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi untuk dapat diselesaikan oleh para guru dan lembaga penyelenggara pendidikan.

Masih sangat sarat lagi tantangan yang akan dihadapi para guru untuk dapat beradaptasi dengan sebaik-baiknya dalam situasi transisi, agar dapat memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positifnya. Menyikapi hal-hal demikian, tidak lain maka para g

uru haruslah dapat mengembangkan suatu perilaku adaptif agar berhasil mengemban profesinya di era otonomi daerah dan era global ini. Dengan cara demikian, karena guru adalah “soko guru” pendidikan, mudah-mudahan peningkatan mutu pendidikan di era otonomi daerah segera akan tercapai.

Pada kesempatan Hari Guru ini, kita ingin mengingatkan kembali bahwa pada hakekatnya guru adalah menyiapkan masa depan bangsa, maka ini menempatkan guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia.

Pada guru tertumpu beban tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka. Ke masa depan yang bagaimana peserta didik akan dibawa tergantung pada jembatan itu.

Seperti diungkapkan Mendikbud pada peringatan Hari Guru kali ini, dari tiga penggalan masa (masa lalu, masa kini, dan masa depan), masa depanlah yang menjadi tujuan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa lalu dan masa kini. Tugas guru sangat mulia karena menyiapkan generasi penerus demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya, dan sekaligus membangun peradaban. Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia, menjadi guru berarti menjadi mulia, bahkan kemuliaannya sama sekali tidak memerlukan atribut tambahan (aksesori). Memuliakan profesi yang mulia (guru) adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan dan menghargai kemuliaan. Hadirin sekalian yang saya hormati Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dari profesi lainnya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru.

Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru. Profesionalitas guru akan terasa hasilnya pada masa depan, yang apabila salah arah, akan mustahil diputar kembali untuk memperbaikinya, karena pendidikan adalah proses yang tidak bisa dibalik.***

Categories: status | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: