Ki Dhalang

Sigit Sukasman, Sang Pecinta Wayang

Sigit Sukasman, bukan dalang yang memegang wayang dan menggerak-gerakkan wayang. Tapi ialah dalang sejati karena cintanya pada wayang. Tiap hari ia menggambar wayang, membuat wayang, dengan tujuan agar tampilan wayang lebih hidup, agar pentas wayang menarik.

Cintanya pada dalang bisa jadi melebihi dalang mana pun. Hidupnya didekasikan untuk mengkreasi bentuk wayang. Sukasman yakin, itu tak mengurangi makna filosofis wayang. Sebaliknya, wayang akan semakin dicintai. Namun langkah Sukasman terhenti.

Sang Maha Kuasa memanggilnya, Kamis (29/10) kemarin di RS Panti Rapih Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Krapyak Bantul. Ia dirawat sejak Selasa lalu, karena mengalami komplikasi gangguan jantung dan paru-paru. Namun, jam-jam menjelang ajal menjemput, Sukasman masih saja memikirkan pekerjaan seninya.

“Dengan nafas tersengal-sengal pun, ia masih saja bertanya ke saya, bagaimana patungnya, bagaiman a wayangnya. Bagaimana isi bukunya, ada yang kurang tidak,” kata Yoyok Hadiwahyono, sahabatnya yang sering menemani keseharian Sukasman.

Buku yang dimaksud itu adalah buku tentang kehidupan Sukasman dan dunia yang digelutinya, yang mengantarnya menyandang predikat sebagai maestro wayang ukur satu-satunya di negeri ini. Wayang kreasinya, yang disebut sebagai wayang ukur, banyak dipakai para dalang kondang Tanah Air.

Banyak juga karyanya yang dipajang oleh instansi dan kampus, hingga dipamerkan di luar negeri. Sukasman juga seorang sutradara pentas wayang, yang menyusun cerita hingga tata pencahayaan pertunjukan. Ia jelas aktor dibelakang layar.

Selain membuat wayang, Sukasman juga perupa. Di rumahnya yang berada di Mergangsan, Kota Yogyakarta, banyak terhampar lukisan dan patung-patung fiber hasil rancangannya. Bentuknya umumnya tak lazim. Misalnya patung kuda sembrani setinggi hampir tiga meter, terbuat dari fiberglas. Patung kuda itu bersayap dan bersirip ikan.

Tidak jualan karya

Ia tidak jualan karya secara asal. Tak terhitung berapa kali karyanya ditawar dengan harga tinggi, sampai puluhan juta. Tapi dia menolak, sebab hatinya nggak sreg. “Lha wong dari niat menjual saja, begitu ada pembeli, tiba-tiba batal, itu sering juga,” ujar Yoyok.

Tetapi jika hatinya sreg, Sukasman langsung memberikan karyanya gratis ke siapa pun. Ia bisa amat kaya namun memilih hidup sederhana. Tempat tidurnya hanya kasur busa yang diletakkan di atas lantai dan ditutupi selambu. Jika bepergian, ia memakai sepeda jengki, dengan alasan tidak mau menimbulkan polusi.

Sejak remaja, Sukasman mulai mengutak-atik bentuk wayang klasik menjadi wayang kreasi baru. Sosok wayang yang itu-itu saja, dirombaknya. Menurut Yoyok, satu tokoh wayang mungkin sudah puluhan kali dikreasi bentuknya. Dan itupun Sukasman belum puas.

Misalnya Gareng, ditonjolkan kecacatannya pada tangan dan mata. Gunungan yang dalam versi klasiknya mirip gunung, dibuat berbentuk bundar, bahkan digambari peta dunia. Tokoh semar yang tali pusar di perut biasanya menghadap ke bawah dan melekat di kaki, dibuatnya kelihatan di depan perut sehingga tampak bodong.

Untuk tokoh-tokoh wayang lain, ukuran badan, tangan, kaki, diperpanjang, diperlebar, hingga diperkurus. Sukasman juga membuat bentukan wayang lain-dari kulit kerbau-untuk menambah unik pentas wayang, misalnya gapura hingga kuda sembrani.

Gabungan antara wayangnya yang berwarna-warni, patung-patung fiberglass di sekitar layar, teknik tata lampu dari belakang dan depan layar, adalah perpaduan menarik, seperti menonton pentas wayang tiga dimensi. Jumlah dalang pun harus lebih dari satu, namun 3-4 orang.

Dikenal dunia

Sukasman tidak suka jika dalang menjadi superman yang mengerjakan semua pekerjaan di atas panggung, dari mendalang hingga mengisi suara semua tokoh wayang. Dalam benaknya, tugas dalang adalah mendalang. Keseluruhan pentas, disebutnya sebagai supertim .

Karena keluar pakem itulah, wayang ukurnya terhitung tidak sering pentas. Kalau mendapat order pentas pun, malah nombok. Cemoohan kadang dilontarkan mereka yang tak sepakat bahwa wayang bisa keluar dari pakemnya . Namun pria kelahiran Yogyakarta, 10 April 1937 ini tak menganggapnya masalah. Ia justru tertantang.

Dengan kenyataan bahwa namanya dikenal di dunia internasional, itu adalah bukti tak terbantahkan. Selepas tamat dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), tahun 1962, ia mengadu nasib ke Jakarta, dan bekerja sebagai dekorator. Dua tahun berikutnya ia diberi tugas mengonsep interior stan Indonesia dalam World Fair di New York.

Berbekal nekat, Sukasman lalu merantau ke Belanda. Sepuluh tahun di negeri kincir angin itu (1964-1974), ia setia berkreasi, menggambar wayang, membuat wayang, dan menjualnya bahkan door to door. Sekadar bertahan hidup dan membeli bahan-bahan untuk karyanya. Ia pernah menjadi buruh cuci piring di restoran.

Sukasman sudah mengecap banyak pameran internasional. Ia pun pernah mendesain interior sebuah pusat perbelanjaan di Jerman. Ketika UNESCO menetapkan wayang sebagai salah satu pusaka dunia tak benda, beberapa tahun lalu, sedikit banyak itu adalah andil Sukasman. Sebab ia sudah berteriak lantang tentang indahnya wayang Indonesia ke dunia internasional sejak 1960-an.

Seniman yang memutuskan tidak menikah ini menjalani hidup dengan sederhana. Tidurnya hanya beralas kasur busa yang ditutupi selambu. Kemana-mana ia menggunakan sepeda jengki karena tak mau menimbulkan polusi. “Ia pun tak mau memakai kompor elpiji,” ujar Felix, keponakan Sukasman.

Karena ganguan pada jantungnya (lemah jantung), lima tahun terakhir Sukasman tak lagi banyak mengerjakan karya secara langsung. Ia hanya menggambar dan memberi arahan. Orang lain yang mengerjakan. Sukasman orang yang detil dan perfeksionis.

Sebuah film dokumenter tentang Sukasman dibuat setahun lalu oleh Sarang Ide Production. Judulnya Memayu Hayuning Buwono. Dimas Ari Sandi, sutradara di rumah produksi itu menuturkan, banyak hal tentang Sukasman yang menjadi pembelajaran bijak.

Benaknya tak bisa berhenti. Bangun tidur sudah langsung berpikir. Karyanya yang menurut banyak orang sudah luar biasa, bagi dia masih belum sempurna. Ia sangat bersemangat jika bercerita tentang wayang. Wayang adalah istrinya. Ia tak peduli uang.

Ia seniman yang bekerja dengan hati dan jiwa. Ia mengilmiahkan wayang. “Ia senang memaparkan wayang, namun tertutup jika menyoal kehidupannya sendiri,” ujar Dimas.

Dimas melanjutkan, Sukasman adalah seniman komplet. Ia pernah mengonsep gambar untuk logo perusahaan kosmetik Mustika Ratu dan Sari Ayu. “Sukasman juga pernah mendapat penghargaan dari Sultan HB X saat pemeran Bienalle, atas dedikasinya dalam wayang. Ia juga pernah menerima Gudang Garam Life Time Achievemet,” tambah Dimas.

Edi Sulistyo, pelukis yang juga dekat dengan Sukasman, mengatakan, ia kehilangan sahabat sekaligus guru. “Saya dibolehkan meminjam karyanya yakni wayang Petruk, untuk menemani lukisan-lukisan saya yang dipamerkan di Fine Art Hanoi (Vietnam), September lalu. Wayang Petruk itu masih dipamerkan disana,” ujarnya sambil menangis.

Sejak kecil Sukasman sudah akrab dengan wayang, karena ia suka menggambar wayang. Sang ayah (Zainal) yang pengusaha batik, pernah diberi sekotak wayang kertas. Wayang itu jelas gampang rusak, tapi Sukasman selalu bisa memperbaiki.

Tamat SMA, Sukasman masuk ASRI karena ingin mengembangkan hobi menggambar wayang. Ternyata, di ASRI tak ada mata pelajaran menggambar wayang. Kecewa, namun Sukasman tetap menamatkan kuliahnya.

Pernah ia menunjukkan karyanya pada Ki Prayitno Wiguno, gurunya di Abiranda (lembaga pendidikan pedalangan di Keraton Yogya). Gurunya marah dan mengatakan bahwa bentuk wayang sudah sempurna, tidak boleh diutak-atik. Namun Sukasman jalan terus.

Hasrat menciptakan wayang kreasi baru sepertinya sudah menjadi candu bagi Sukasman, anak ke tujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Zainal dan Sudilah ini. Menurut Yoyok, Sukasman selalu gelisah untuk terus mencari kreasi baru dalam wayang.

Wayang ukur adalah pencapaian dia yang selalu mencari ukuran baru dari ukuran wayang yang sudah ada. “Kalau ada ide, dia bisa ngomong ke orang lain, atau nulis di mana saja, nggak peduli malam atau pagi,” ujar Yoyok yang sering ditelepon dini hari oleh Sukasman ini.

Rumah Sukasman yang mengusung konsep gedeg dan kayu ini tak hanya sederhana, tapi unik. Selain karyanya yang berserakan di semua penjuru, pada dinding dan pintu, atau bagian apa saja, banyak tulisan tangannya memakai kapur. Coba simak tulisannya di pintu kayu: Penggolongan ragu ragu manusia: berhenti sebagai manusia tidak membuat orang kejawen luntur, tapi justru tumbuh subur…

Ada juga yang begini tulisannya: Dulu masyarakat adalah kawula Gusti tapi sekarang semua orang menginginkan mendapat haknya sebagai Gusti . Sementara, di sisi lain pintu, ada juga tertulis sepenggal kalimat: Budaya Jawa itu utamanya bukan untuk para ningrat dan pemimpin, tapi untuk rakyat..

“Kepada saya, ia sering bilang, mengapa banyak orang beragama, banyak tempat ibadah dibangun, tapi masih saja ada pertikaian. Mengapa orang di bumi ini tak mau hidup berdampingan dengan damai dan mengesampingkan perbedaan-perbedaan. Ia menuangkan itu dalam banyak karya. Salah satunya gunungan wayang yang berbentuk bundar. Di bagian atas, ia menggambar dua angsa/burung yang saling menautkan kepala sehingga membentuk visual jantung hati lambang cinta,” papar Yoyok.

Mengejutkan

Kepergian Sukasman mengejutkan banyak pihak. Kasimo, adik Sukasman, tak mendapat firasat apa pun menjelang meninggalnya sang kakak. Hani Winotosastro, keponakan Sukasman, juga tidak mendapat firasat, misalnya mimpi. “Namun beberapa hari ini, perasaan saya kok nggak enak. Terutama pas melihat dia saat dirawat di ruang gawat darurat. Ternyata itu pertanda,” kata Hani.

Edi Sulistyo yang mendapat firasat. “Tiga hari sebelum ia meninggal, saya bermimpi. Dalam mimpi, saya diberi perkutut putih,” katanya.

Seniman Djaduk Ferianto yang ikut melayat bersama ratusan seniman lain berujar, “Kapan lagi kita diberi kesempatan punya orang hebat seperti dia.”

Sukasman sudah terbang. Di alam sana, Sigit Sukasman pasti terus menggambar wayang dan membuatnya, tanpa batas… (Lukas Adi Prasetya)

sumber kompas

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: